Rabu, 05 Maret 2014

CEO PowerLunch - BAHAYA ‘LATEN’ YANG MENGHANCURKAN BISNIS


Berbicara tentang kesehatan bisnis, ternyata sama dengan kesehatan fisik kita. Ada beberapa fase atau tahapan dimana satu ‘penyakit’ tidak terdeteksi, dan jika dibiarkan akan sulit disembuhkan, bahkan bisa membawa pada kondisi mematikan. Begitupun dengan bisnis. Ada indikasi tak terlihat, yang lama-kelamaan bisa menghancurkan usaha.
Hal inilah yang dipaparkan dalam Forum CEO PowerLunch bertema “How the Mighty Falls”, Rabu (19/02) lalu. Acara rutin yang diadakan oleh BARACoaching (ActionCOACH East Java-Bali) ini merupakan ajang para CEO untuk bersilaturahmi dan berdiskusi terkait masalah bisnis terkini. Humphrey Rusli, selaku COO (Chief Operating Officer) BARACoaching sekaligus pembicara utama menjelaskan tentang 5 stadium beserta gejala yang perlu diwaspadai, karena bisa menghancurkan bisnis.
“Diantara tahapan penyakit, maka stadium awal tentunya mudah disembuhkan, namun lebih sulit dideteksi. Sebaliknya bila seseorang sudah masuk dalam stadium empat, maka sakitnya akan mudah dideteksi, tapi sudah sulit disembuhkan. Sama juga dengan yang terjadi pada bisnis. Ada beberapa gejala perlu diwaspadai, karena bila dibiarkan akan membawa dampak fatal, bahkan membuat perusahaan jatuh,” tutur coach Humphrey di acara yang berlangsung di hotel Shangrila Surabaya ini.
Lebih jauh, coach Humphrey menyebut 5 fase yang bisa menjatuhkan perusahaan besar. Stadium satu yaitu bangga dengan kesuksesan dan merasa sukses adalah kewajaran.
“Pada fase ini, pemimpin bisnis punya pandangan bahwa sukses yang diraih sebelumnya, bisa otomatis diulang dengan mudah. Dia melupakan konteks sukses yang diraihnya. Jadi tidak lagi fokus dengan pemikiran atau strategi bagaimana untuk meraih puncak bisnis, yang diingat hanya suksesnya semata. Diantara beberapa tanda, biasanya yang paling terlihat yaitu tidak pernah melakukan evaluasi kerja, tidak melakukan update karena berkiblat ke cara yang lama dan menganggap cukup banyak tahu, serta jumlah konsumen yang tidak bertambah, karena hanya memaintain konsumen lama,” papar pria kelahiran Surabaya ini panjang lebar.
Fase selanjutnya adalah mengembangkan usaha atau ekspansi, dengan asumsi strategi yang sama bisa dijalankan untuk bidang usaha lain. Pertumbuhan bisnis menjadi cepat tanpa tahu konteks. Biasanya pemimpin bisnis akan mempertaruhkan segalanya untuk satu produk. Dan pada saat mengalami masalah, maka dia akan menyalahkan faktor luar, daripada melakukan introspeksi diri.
Stadium ketiga ditandai dengan sikap menyangkal atau menutup dari kesalahan diri sendiri (self denial). Di fase ini, pemimpin bisnis tidak mau introspeksi diri dan cenderung menyalahkan faktor luar untuk menutupi realita buruk pada bisnisnya.
“Selain menutup diri terhadap kritik dan realita buruk, pemimpin bisnis di stadium tiga juga semakin sedikit membuka kesempatan timnya berdebat. Jadi sifatnya one way instruction. Timnya juga begitu, menyetujui di depan, tapi di belakang tidak sepakat dan tidak menjalankan apa yang sudah disepakati dengan pemimpin,” jelas coach Humphrey.
Pada stadium berikutnya, dengan keadaan financial yang sudah memburuk, pemimpin bisnis biasanya mengandalkan akuisisi atau gebrakan marketing yang bisa menyelamatkan bisnisnya.
“Disini pemimpin perusahaan mulai dilematis, melakukan perubahan yang radikal atau minta bantuan pihak luar untuk menyelamatkan usahanya. Jika harus merekrut pemimpin lagi, maka calon leader baru cenderung mengabaikan culture perusahaan, karena hanya fokus untuk menyembuhkan bisnisnya.”
Jika stadium ini tidak bisa diperbaiki, maka tahap berikutnya semua sumber dan harapan akan ‘mati’.
All resources are depleted, all hopes are gone. No more cash. Yang ada selanjutnya, pemimpin akan menjual semua aset perusahaan atau membiarkannya mati sendiri,” kata coach Humphrey.
Di akhir acara, coach Humphrey menambahkan, dia berharap dengan mengikuti acara ini, peserta yang hadir (para CEO) sadar akan bahaya laten, bahkan yang sudah ada atau mulai dirasakan di perusahaan mereka, agar tidak sampai dibiarkan dan membawa kehancuran bisnis.

Pendapat para CEO :
1.       Jeffry Jono Sugiharto – CV. Talenta Indah Cemerlang
Banyak manfaat yang saya dapatkan dengan mengikuti forum ini. Selain bisa networking dengan sesama pemilik bisnis,  saya juga belajar bagaimana memanage bisnis lebih baik dan bisa grow. Saya seperti diingatkan, bahwa ada fase-fase yang kelihatannya sepele, tidak kita sadari, dan bahkan cenderung kita abaikan, ternyata jika dibiarkan akan fatal dan menjadikan bisnis kita ‘kronis’.
2.       Sam Sebastian – House of David
Buat saya, perlu untuk mengetahui tanda-tanda yang bisa membuat perusahaan jatuh, agar bisa mengantisipasi dan melakukan perbaikan.
Pada forum ini diberikan beberapa contoh, bagaimana perusahaan-perusahaan yang sudah begitu besar akhirnya jatuh. Namun ada juga yang sudah memburuk, kemudian berhasil fight dan mengulang kesuksesannya. Hal ini begitu inspiratif dan bermanfaat buat saya.


BAGI ANDA (PEMIMPIN ATAU PEMILIK BISNIS) YANG BELUM SEMPAT MENGIKUTI FORUM DI ATAS, SILAHKAN KIRIM ALAMAT EMAIL & NO. HP PADA COMMENT BOX, UNTUK MENDAPATKAN PENJELASAN RINGKAS MATERI “HOW THE MIGHTY FALLS” DARI BUSINESS COACH KAMI.
FREE OF CHARGE !

0 komentar:

Poskan Komentar