Kamis, 06 Februari 2014

CEO PowerLunch - MITOS-MITOS KELIRU YANG BISA MEMBUNUH BISNIS BESAR

Menjalankan roda perusahaan besar memang tidaklah mudah. Apalagi di era hyper competition dewasa ini. Pemimpin visioner dan produk yang berkualitas, bukanlah jaminan utama untuk menjadi perusahaan raksasa. Lalu apa saja yang harus diperhatikan agar perusahaan besar bisa terus tumbuh dan berkembang, bukan malah kembali ke posisi awal?
BARACoaching Surabaya (ActionCOACH East Java-Bali) mengupas hal tersebut dalam acara CEO PowerLunch bertajuk “How the Big Stay Big”, Rabu (15/01) kemarin. Forum bulanan yang diadakan di Kalimantan Room, Shangrilla Hotel Surabaya ini dihadiri oleh para CEO dari wilayah Surabaya dan sekitarnya.
”Jim Collins dalam risetnya berkata, bahwa perusahaan besar yang tumbuh menjadi raksasa bukan disebabkan karena adanya pemimpin visioner yang hanya fokus pada profit saja. Lebih jauh, dia harus punya idealisme atau prinsip kuat, dan itu bukan profit. Profit hanya menjadi salah satu sasaran antara, bukan yang utama,” jelas Humphrey Rusli selaku Chief Operating Officer (COO) BARACoaching Surabaya sekaligus pembicara dalam acara ini.
Coach Humphrey menyebutkan, ada 11 mitos yang harus dihindari karena dapat membunuh pertumbuhan bisnis. Beberapa diantaranya adanya pendapat bahwa untuk menjadi perusahaan besar, harus punya pemimpin yang karismatik dan visioner. Padahal, faktanya pemimpin-pemimpin besar justru bekerja di balik layar dan fokus pada pembentukan rencana jangka panjang juga mengembangkan tim untuk menjalankannya.
Mitos selanjutnya hanya fokus ke profit. Fakta berbicara, perusahaan akan tumbuh jika pemimpin tidak hanya memikirkan profit, tapi dia juga punya pandangan (prinsip) hidup yang kuat. Profit hanya menjadi salah satu sasaran antara, bukan yang utama.
“Selain itu ada juga pendapat atau mitos yang menyebutkan, diperlukan planning yang rumit dan canggih untuk mencapai puncak bisnis. Pada kenyataannya, untuk menjadi besar diperlukan eksperimen, trial and error, dan terkadang keberanian untuk berbuat salah. Karena tanpa itu semua tidak akan ada yang namanya belajar dan berkembang,” tegas international business coach kelahiran Surabaya ini.
 Kesalahan lain yang sering dilakukan oleh para pemilik bisnis adalah merekruit orang-orang siap pakai (berpengalaman), agar perusahaanya menjadi besar. Pendapat itu pun sebuah mitos, karena lebih baik menerima orang yang tidak seberapa berpengalaman, untuk dididik menjadi lebih baik dari bawah (home grown) dengan lingkungan yang kondusif.
“Sebenarnya inti dari forum How the Big Stay Big adalah mengingatkan esensi dari perusahaan yang bisa berkembang menjadi raksasa, untuk kemudian belajar menerapkan esensi itu. Selain itu mengeliminasi cara pandang yang salah dan tidak mensupport tujuan perusahaan jangka panjang.”
 Meski begitu, tambah coach Humphrey, tidak mudah untuk menjalankannya. Diperlukan tenaga, waktu, dan effort yang besar. Sebagian besar pebisnis pun masih beranggapan, kualitas superior sebuah produk adalah yang utama, tanpa sadar hal paling penting adalah konsistensi kualitas dan disiplin mendeliver janji, untuk kontinuitas cashflow.
 “CEO diidentikkan sebagai sosok yang sangat sibuk dan tidak punya waktu, sehingga seringkali lupa untuk membuka wawasan dan networking dengan pebisnis lain. Acara CEO PowerLunch ini didesain untuk itu semua. Karena di sini mereka bisa mendapatkan network berkualitas dengan lingkungan belajar yang kondusif,” tutup coach Humphrey di akhir acara.

Pendapat para CEO :
1.       Nirwan Sumargo – GBT Laras Imbang
Sebagai dokter, buat saya tetap penting mengikuti forum bisnis seperti CEO PowerLunch. Banyak hal yang bisa diambil di sini. Saya banyak mendapatkan ilmu bisnis yang belum pernah saya peroleh secara akademik. Lebih jauh juga membuka wawasan saya, terutama dari segi peningkatan pelayanan kualitas kesehatan, sehingga tahu kepuasan konsumen (pasien).
Bagi saya, agar tetap bertahan, pelaku bisnis harus punya visi yang jelas, karena dengan bekal itulah dia akan menjalankan dengan sungguh-sungguh untuk mencapai goal yang ingin dicapai. Kedua, harus punya empati, baik terhadap tim, orang lain, maupun dengan sesama pebisnis untuk maju bersama.
Terakhir, harus punya kemampuan untuk mengevaluasi. Misal, dalam keseharian saya menjalankan praktek, saya terbiasa menanyakan kepada pasien, seperti mengapa mereka memakai jasa saya? Apa pelayanan yang diberikan sudah sesuai dengan keinginan mereka?
Itu semua membantu saya untuk mengevaluasi dan menempatkan diri, serta menilai sampai sejauh manakah saya.

2.       Daniel P. Tengker – House of David
Menurut pendapat saya, untuk tetap menjadi besar, maka seorang pelaku bisnis harus punya impian yang besar juga. Contohnya, Akio Morita, pendiri perusahaan raksasa Sony, yang mengwali bisnisnya dengan membuat barang-barang elektronik yang mudah rusak. Waktu itu, dia hanya punya impian besar untuk membuat nama Jepang harum di mata dunia.
Selanjutnya jangan hanya mengejar profit. Kita harus punya satu arahan yang akhirnya bisa memotivasi dan menjadi jiwa untuk perusahaan. Kalau kita hanya fokus pada profit, bisa terkalahkan oleh mereka yang punya impian besar.
CEO PowerLunch “How the Big Stay Big” memberikan pemahaman pada saya, bahwa ada banyak hal atau titik yang mesti dipelajari dan dibenahi, karena perusahaan besar atau raksasa juga bisa jatuh.
Selain itu, lebih membuka pemikiran kita tentang apa yang bisa membuat tetap fun untuk terus bekerja (berbisnis), yang itu bukan melulu karena uang. Secara networking, juga banyak memberikan inside, karena bisa bertemu dengan sesama owner bisnis, tahu cara atau pola pikir mereka, dan yang lebih penting bisa sharing dengan mereka.


BAGI ANDA (PEMIMPIN ATAU PEMILIK BISNIS) YANG BELUM SEMPAT MENGIKUTI FORUM DI ATAS, SILAHKAN KIRIM ALAMAT EMAIL & NO. HP PADA COMMENT BOX, UNTUK MENDAPATKAN PENJELASAN RINGKAS MATERI “HOW THE BIG STAY BIG” DARI BUSINESS COACH KAMI.
FREE OF CHARGE !

0 komentar:

Posting Komentar