business-forum

coaches

Sabtu, 28 September 2013

Book Club - MARKETING IS A GAME

Ruaniwati, selaku pembicara dalam Book Club "Gaming Your Club"
Marketing is also a game. Dunia marketing juga merupakan model permainan. Kita dituntut untuk kreatif, belajar berpikir secara out of the box, memberikan tools dan tips, serta strategi yang tepat untuk menggairahkan pasar.
Hal itu yang dibahas dalam acara bedah buku “Gaming Your Market”, pada Jum’at, 20 September (14.00-17.00). Buku yang ditulis oleh Ivan Mulyadi ini menceritakan tentang game dan berbagai mekanismenya, yang dewasa ini banyak diterapkan ke dalam aktivitas marketing perusahaan.
Bedah buku ini, merupakan bagian dari acara rutin ActionCOACH Surabaya yang bernama ‘Book Club’. Sebuah forum intern yang membedah buku-buku bisnis, untuk kemudian didiskusikan dan dihubungkan dengan permasalahan bisnis yang ada.
Ruaniwati, selaku CEO Dash & Associates sekaligus pembicara acara ini bertutur sangat terkesan dengan buku ini.
“Saya cukup tahu tentang game, dan buku ini menarik, karena dasarnya ternyata gaming bisa jadi rules yang menarik untuk berinteraksi dengan customer,” kata wanita yang akrab dipanggil Bu Ruani ini.
Lebih lanjut, dijelaskan bahwa marketing dan game merupakan padanan yang sempurna (perfect match). Selama orang masih bermain, industri game akan terus tumbuh. Peran game bukan hanya sebagai media promosi, dalam artian membangun merek dan loyalitas saja, tapi juga menjadi bagian dari dunia marketing.
“Acara ini membicarakan korelasi antara game marketing dalam buku, dengan apa yang bisa dipraktekkan di dunia bisnis kita sekarang. Saya berharap, peserta Book Club bisa punya wawasan, kalau marketing tidak hanya dilakukan dengan cara-cara lama. Dunia berubah, dan ada cara baru dan kreatif, yang tidak selalu mahal. Salah satunya melalui game marketing,” papar Ruani.

Senin, 23 September 2013

CEO PowerLunch - UNGKAP JURUS JITU MENUJU BISNIS PREMIUM

Humphrey Rusli memberikan materi “Being Premium: Sales, Price, & Clients”

Rabu, 18 September 2013, SEA Corp. (ActionCOACH East Java & Bali) kembali mengadakan forum intern rutin, CEO PowerLunch bertajuk “Being Premium: Sales, Price, & Clients” di Pelangi Room, Hotel Shangrila Surabaya.
Humphrey Rusli, selaku pembicara dalam acara ini menyampaikan, bagaimana agar seorang pelaku bisnis menjadi premium, baik itu dalam hal penjualan, harga, maupun mendapatkan customer.
Menurut Humphrey, kualitas dalam bisnis bukan satu-satunya faktor utama yang bisa mendongkrak bisnis menjadi premium. Karena kualitas adalah wajib hukumnya dalam sebuah bisnis.
“Kualitas dalam bisnis bukan satu-satunya faktor utama yang mendongkrak bisnis kita menjadi premium. Ada beberapa faktor untuk menjadi premium, salah satunya adalah niche (ceruk pasar). Namun, sifat niche di sini lebih pada spesialisasi. Usahakan agar bisnis Anda lebih spesialis, dan ambil sisi yang bisa dijadikan pembeda dibanding usaha bisnis lainnya yang bersifat sama,” ungkapnya di depan sekitar 25 peserta yang hadir.
Di akhir acara, Humphrey berharap, dengan mengikuti acara ini, para CEO bukan hanya paham secara teori saja, namun juga bisa mempraktekannya dalam bisnis mereka, sehingga mampu menembus level premium.


Para CEO dalam ‘ritual’ makan siang bersama, sebelum acara CEO PowerLunch dimulai

Pendapat para CEO :
1.     Theresia Setiadi – GBT Laras Imbang
Penjelasan yang diberikan coach Humphrey langsung fokus ke materi dan tidak bertele-tele, sehingga cukup jelas dan mudah dimengerti. Satu hal baru yang langsung mengena adalah melakukan sesuatu dengan continous atau terus-menerus, untuk mencapai puncak bisnis.
Selama ini untuk menjadi premium, kita berusaha berempati kepada pelanggan, bagaimana kita menempatkan posisi, seandainya menjadi mereka. Sehingga kita selalu memberikan layanan yang sebaik-baiknya kepada pelanggan. Jangan sampai mereka kembali dengan keluhan atau komplain.

2.     Moegiono – MUSTIKA Hotel & Restaurant
Banyak  hal baru yang saya dapatkan selama mengikuti acara ini. Materi dan penyampaian yang diberikan juga bagus. Berkaitan dengan being premium sendiri, menurut pendapat saya, sebuah bisnis dikatakan premium, jika semua elemen yang ada dalam bisnis kita sudah tertata dan mencapai hasil maksimal. Mulai dari SDM yang mumpuni dan sejalan dengan keinginan owner, proses pembuatan produk dan pelayanan pada konsumen yang maksimal, sampai tingkat customer yang loyal, sehingga dia tidak keberatan untuk merekomendasikan usaha kita kepada orang lain.
Selama ini, dalam menjalankan bisnis, banyak hal yang kami lakukan untuk being premium. Diantaranya perbaikan pelayanan, upgrading karyawan, selalu mengadakan inovasi-inovasi, dan mengadakan market intelegent.

Humphrey Rusli bersama sebagian besar peserta CEO PowerLunch

Sabtu, 21 September 2013

CEO PowerLunch - SENI DAN PERAN TIM DALAM MENARIK SUPER-STAR



Dalam dunia bisnis, keberhasilan usaha tidak lepas dari peran karyawan. Itu kenapa owner bisnis perlu memiliki pengetahuan bagaimana cara mendapatkan karyawan yang ‘mumpuni’, baik dari segi skill, maupun attitudenya.
Bekal itu yang diberikan kepada owner bisnis dalam acara CEO PowerLunch, bertajuk “The Secret of Hiring Best People”, Rabu, 28 Agustus 2013 lalu.
Selain menjelaskan tentang tantangan yang ada saat proses perekrutan, Humphrey Rusli sebagai pembicara juga mengungkap ‘seni’ menarik seorang karyawan jempolan (super-star).
“Karyawan jempolan memang punya kelebihan sejak lahir. Namun untuk menjadi super-star, itu didapat dari jangka panjang (long term), dengan proses yang benar dan disiplin tentunya. Diperlukan kemampuan owner untuk mendapatkan dan kemudian melatihnya menjadi seorang great employee ,” tutur Humphrey di tengah acara yang berlangsung di Pelangi Room, hotel Shangrila Surabaya ini.
Lalu apa saja yang harus diperhatikan agar bisa mendapatkan seorang super-star? Humphrey menyebut, yang pertama adalah menunjukkan pada mereka bahwa perusahaan Anda punya level yang akan terus meningkat. Karena seorang super-star itu pada dasarnya senang tantangan dan selalu ingin berkembang.
“Beberapa contoh hal yang bisa dilakukan, diantaranya bisa dengan menunjukkan fasilitas training perusahaan pada mereka. Lebih baik lagi jika perusahaan Anda punya Corporate Social Responsibility, karena bisa menyentuh mereka secara holistik, bukan hanya skill saja, tapi juga rasa sosial mereka,” ungkap International business coach ini.
Selanjutnya, selain menunjukkan reputasi baik perusahaan pada mereka, juga harus dibarengi dengan atmosfir dan nuansa kerja yang kondusif saat mereka mulai bekerja pada perusahaan Anda.
“Yang terpenting adalah kualitas tim Anda juga harus dilatih untuk mendapatkan seorang calon super-star. Usahakan memberikan kualifikasi pertanyaan bermutu, dan pihak yang memberikan interview juga harus ‘mumpuni’,” kata Humphrey. “Kerjasama tim dan owner bisnis diperlukan untuk melatih dan memotivasi, agar seorang super-star tidak hanya super secara skill saja, tapi juga menjadi great employee yang bisa mengembangkan sistem mencapai puncak,” tambahnya lagi.

Pendapat para CEO : 
1.     Sesilia Mulyadi (PT. Bangun Adinata Indokarya)
Problem terbesar ketika merekrut adalah bagaimana mendapat karyawan yang karakternya sesuai dengan perusahaan kita. Kalau masalah skill tidak masalah, karena skill bisa dilatih. Dengan penjelasan yang diberikan coach Humphrey, sangat bermanfaat menambah pengetahuan, khususnya tentang bagaimana menghire orang yang tepat untuk perusahaan kita.

2.     Kris Dwiantoro (PT. Nisrina Indonesia)
Yang paling penting pada saat merekrut adalah memperhatikan heart dan spirit yang dipunyai oleh seorang calon karyawan. Namun justru inilah problem utama dalam proses hiring. Dengan mengikuti CEO Powerlunch, banyak hal baru yang didapat. Selain jenis-jenis pertanyaan untuk proses rekruitment, juga bagaimana mengungkap heart dan spirit calon karyawan.

Jumat, 20 September 2013

WEALTH EXPO 2013, KOTA KASABLANKA, THE KASABLANKA

Tim SEA Corp. (ActionCOACH East Java-Bali) dalam Wealth Expo 2013 di Kota Kasablanka, Jakarta Selatan, 13-14 September 2013. Acara yang diadakan oleh PT. Adam Khoo Learning Technologies Group ini diikuti oleh kurang lebih 4000 peserta. Menghadirkan beberapa pembicara seperti Chris Gardner, Adam Khoo, James Gwee, Merry Riana, Fabina Lim, serta CEO SEA Corp., Han 'Tiger' Budiyono. 
Coach Han Budiyono (CEO SEA Corp.) sebagai salah satu pembicara dalam Wealth Expo 2013.






Kamis, 19 September 2013

LEAN THINKING : INTINYA, MAKE IT SIMPLE SAJA

Suwito Sumargo menjelaskan langkah-langkah dalam konsep Lean.

Sebagai bentuk acara rutin, untuk memberikan materi tentang pondasi yang mutlak dimiliki dalam dunia bisnis, SEA Corp. (ActionCOACH East Java-Bali) kembali mengadakan forum Business Mastery bertajuk “Lean Thinking”, Jum’at (16/08/13).
Suwito Sumargo, selaku pembicara menjelaskan konsep lean thinking perlu dipelajari, agar pemilik bisnis bisa menghemat modal usaha, baik dalam bentuk uang, sumber daya manusia (SDM) maupun waktu.
“Pada prinsipnya, lean thinking itu lebih pada proses. Bisa disebut juga dengan proses perampingan. Entah itu berupa step-step yang dibuat simple dan singkat (pendek). Dan menekan ‘waste’ yang terbuang,” tutur business coach yang juga pemilik GBT Laras Imbang ini.
Suwito menjelaskan, menekan ‘waste’ dalam lean enterprise tidak harus terkait dengan material produk yang lebih murah, Pemutusan Hubungan Kerja (PHK), ataupun memangkas margin supplier. Ada beberapa prinsip yang ada dalam lean enterprise, salah satunya menentukan atau membuat spesifikasi nilai-nilai di mata customer. Nilai-nilai itu tidak harus selalu berupa produk saja, namun bisa berupa kerapian, delivery, ketepatan, sampai ketersediaan.
Misalnya pada produk teh botol. Sejalan dengan prinsip lean, wadah botol kaca diganti dengan botol plastik atau bahkan kemasan karton. Customer pun tidak mempermasalahkan hal itu, karena mereka lebih memperhatikan isinya (dalam artian kualitas atau rasa tehnya). Dan perubahan ini dinilai lebih praktis dan menguntungkan, karena kemasannya bisa langsung dibuang ketika sudah dipakai.
Contoh kedua, dalam hal pengadaan seminar. Yang terpenting bagi peserta seminar adalah bagaimana pembicara bisa komunikatif dalam menyampaikan materi, sehingga mudah dimengerti oleh mereka. Jadi, tidak perlu terlalu ribet pada pengadaan modul yang menarik, tapi justru fokus pada pemilihan pembicara seminar yang komunikatif dan ‘mumpuni’ dalam menyampaikan materi.
Lebih lanjut, Suwito juga memaparkan tentang kendala dalam melakukan prinsip lean. Diantaranya adalah ketidakmampuan owner untuk memahami prinsip dan mendelivery hambatan-hambatan dalam prinsip lean.
“Kegagalan lean thinking justru karena pelaku bisnis terlalu fokus pada alat dan metodologi, bukan fokus pada filosofi dan budaya dari lean itu sendiri. Mereka terlalu ribet dengan pertanyaan-pertanyaan bagaimana, dengan apa, caranya seperti apa,” tutur Suwito. “Budaya lean itu bisa dibentuk dengan membiasakan karyawan dan customer kita berpikir lebih sederhana. Menjalankan bisnis dengan proses yang sederhana, trial and error, namun tetap pada prinsip lean. Seiring dengan itu, lama-kelamaan para owner akan menemukan sendiri metode lean yang sesuai dengan alur bisnisnya. Intinya itu, make it simple saja,”tambahnya.

Senin, 16 September 2013

Seminar CYBWSS - SISTEM TEPAT DITERAPKAN, PROFIT NAIK 5X LIPAT

Humphrey Rusli dalam seminar "Controlling Your Business With Simple System II"

Dalam dunia bisnis, sistem sengaja dibuat untuk memfasilitasi perubahan ke arah tujuan usaha. Sayangnya, sebagian besar pelaku bisnis masih belum menyadari tujuan utama memiliki sistem bisnis. Fenomena inilah yang kemudian mendasari SEA Corp. (ActionCOACH East Java-Bali) mengadakan seminar bertema “Controlling Your Business With Simple System”. Sebuah tema yang dirancang, agar para owner bisnis punya bekal bagaimana menerapkan sistem berbisnis perusahaan kelas dunia secara simple, mudah, dan efektif dijalankan.
Seminar yang diadakan di Ball Room SEA Corp, PTC Surabaya, Sabtu (14/09) ini merupakan seminar kedua, setelah sebelumnya sukses diselenggarakan pada sepekan lalu dengan tema sama. Hal ini mengingat banyaknya calon peserta dan kelas yang terbatas, untuk hasil edukasi yang maksimal.
Humphrey Rusli, selaku Chief Operating Officer (COO), sekaligus pembicara menjelaskan, ada beberapa hal yang akan dikupas dalam seminar ini. Diantaranya konsep dasar serta tujuan perlunya sistem dalam bisnis, beberapa mitos terkait sistem bisnis yang tidak benar, dan bagaimana menggunakan sistem untuk mendongkrak bisnis. Apabila diterapkan dengan benar, bisa mencapai profit 5x lipat, dengan investasi minimal, atau bahkan tanpa investasi.
“Selama ini banyak pemilik bisnis yang tidak paham sepenuhnya tentang konsep dasar sistem dalam bisnis. Mereka cenderung terprovokasi oleh teknologi canggih semata dan masih copy paste sistem dari perusahaan lain, tanpa tahu tujuan perubahan bisnisnya sendiri ke arah mana. Padahal, teknologi hanya salah satu alat bantu dalam sistem usaha,” tutur pria yang pernah menduduki peringkat #1 diantara tiga ribu lebih business coaches seluruh dunia ini.
Lebih lanjut, Humphrey juga memaparkan keuntungan mempelajari sistem yang simpel dalam berbisnis. Selain agar memiliki disiplin mendeskripsikan dan mengontrol arah bisnisnya, sistem bisnis yang simpel akan lebih ‘ramah pakai’ (user-friendly) dengan cara pemilik bisnis dalam menjalankan usahanya.
“Secara teknik, sistem itu merupakan alat untuk memfasilitasi perubahan dan agar bisa mengontrol arah bisnis kita. Nah, dengan sistem yang simpel dan user-friendly, akan membuat kita lebih mudah mengontrolnya. Bukan sebaliknya, kita yang dikontrol oleh sistem,” tutup Humphrey.

Jumat, 13 September 2013

Kerjasama Dengan SPAZIO - IRONIS, BANYAK PELAKU BISNIS TIDAK MENYADARI WAKTU DAN MODALNYA HILANG

Peserta serius mendengarkan materi "Leverage Your Business" dari Humphrey Rusli

PT. Surabaya Excellence Action (ActionCOACH East Java-Bali) mengadakan kerjasama dengan SPAZIO (Intiland Group) dalam sebuah seminar bertajuk “Leverage Your Business”. Hal ini sebagai salah satu bentuk pengejawantahan misi ActionCOACH untuk memberikan edukasi bisnis yang sesuai dengan perkembangan dan situasi bisnis saat ini.
Bertempat di Auditorium gedung Spazio, Rabu (11/09), acara ini menghadirkan Humphrey Rusli, selaku Chief Operating Officer (COO) SEA Corp. sebagai pembicara. Di sini, International Business Coach ini akan memberikan edukasi bisnis kepada owner bisnis umumnya di Surabaya dan sekitarnya, dan relasi bisnis Intiland (pemilik tenant di gedung Spazio) khususnya.
”Di sini, saya akan memberikan materi tentang seni menciptakan hasil bisnis yang besar secara smart. Inti dari tema Leverage Your Business adalah tentang bagaimana agar pengusaha punya daya ungkit agar bisnisnya profitable dan berkelanjutan,” tuturnya di tengah acara yang dihadiri oleh sekitar 50 owner bisnis ini.
Menurut Humphrey, ada 4 cara yang bisa dilakukan untuk mendaya ungkitkan sebuah bisnis menuju puncak sukses. Pertama adalah people and education. Dalam artian, bagaimana para owner bisnis menitik beratkan pada pembentukan tim yang solid dan pemberian training.
Kedua, efisiensi pada delivery dan distribusi, dimana owner bisnis harus punya bekal langkah ini dengan perencanaan dan pengaturan yang matang. Selain itu, sistem teknologi juga merupakan salah satu alat untuk meningkatkan daya ungkit bisnis. Dengan memanfaatkan kemajuan teknologi yang ada, para owner bisnis bisa menggantikan sistem manual yang sebelumnya dipakai. Diharapkan, langkah ini bisa meningkatkan efisiensi waktu dan biaya yang ada.
“Terakhir melakukan testing dan measuring. Pada dasarnya, semua orang khususnya pebisnis, merasa sayang jika harus kehilangan biaya secara sia-sia. Ironisnya, selama ini mereka bahkan tidak tahu jika banyak waktu dan uang mereka yang hilang secara percuma. Hal ini karena sebagian pelaku bisnis tidak melakukan uji ukur terhadap marketing atau pemasaran produknya, sehingga tidak menyadari spent waktu dan biaya yang hilang,” tekan Top Number One Business Coach tingkat dunia Juli 2013 ini
Di lain pihak, Fronika Puspita sebagai Event and Promo Coordinator SPAZIO merasa senang dengan kerjasama ini.
“Ke depan, kami berharap para owner bisnis, khususnya di wilayah Surabaya barat dan sekitarnya dapat menggunakan fasilitas di gedung Spazio sebagai pusat kegiatan bisnis dan lifestyle,” jelas wanita yang akrab dipanggil Fro ini. 

Kerjasama dengan Wismilak - EDUKASI BISNIS PREMIUM KEPADA AGEN DAN SELLER BERPRESTASI WISMILAK

Humphrey Rusli memberikan edukasi bisnis "From Super Boss to Super Team" kepada para agen dan teller terbaik Wismilak Group dari seluruh Indonesia.

Setelah menggandeng beberapa perusahaan, sebagai bentuk tanggung jawab sosial untuk memberikan edukasi bisnis dan meningkatkan perekonomian, khususnya di wilayah Surabaya, kini SEA Corp. (ActionCOACH East Java-Bali) bekerjasama dengan PT. Gawih Jaya (Wismilak Group) dalam acara intern Wismilak bertajuk PT. Gawih Jaya Europe Gathering Tour.
Bertempat di Resto Nine, acara yang diadakan pada 10 September 2013 ini, menghadirkan pembicara Humphrey Rusli, Chief Operating Officer (COO) SEA Corp., sekaligus pemenang ‘Associate Coach of the Year 2012 dan 2013’ tingkat internasional dan ‘Sales Coach of the Year 2012’ se-Asia dan Australia.
Menurut Humphrey, dalam edukasi bisnis bersifat premium ini, dirinya akan memberikan materi bertema “From Super-Boss to Super-Team”. Sebuah tema yang diangkat, agar pemilik bisnis berujung pada bisnis yang sukses dan berjalan tanpa tergantung kehadiran mereka.
“Saat ini 96% perusahaan tidak bisa berjalan tanpa kehadiran pemiliknya. Kondisi ini terjadi karena para ‘owner’ bisnis tidak fokus pada ‘team building’, namun lebih menghadapi para customers (konsumen). Padahal, kewajiban menghadapi konsumen ada pada pundak tim bisnis. Kalau para pemilik bisnis hanya terpusat menghadapi konsumen, begitu juga timnya, maka yang ada bisnis menjadi terbengkalai,” jelas pria yang hobi membaca ini.
Humphrey Rusli bersama jajaran Direksi PT. Gawih Jaya (Wismilak Group)
Di lain pihak, Ricky Junaidi, selaku National Sales Manager Wismilak Group bertutur, gathering dan pemberian edukasi bisnis ini merupakan bentuk apresiasi terhadap agen dan seller PT. Gawih Jaya (Wismilak Group) yang berprestasi, sebelum diberangkatkan ke Eropa.
”Meskipun beberapa agen dan seller di bawah Wismilak Group sudah mapan, namun sebagian besar bisnisnya masih bersifat running, dan belum memiliki tim yang solid untuk mendukung bisnis ke depannya. Dengan kerja sama ini, kami berharap mereka dapat meningkatkan prestasi dalam bisnis mereka, melalui pondasi tim yang kuat,” papar Ricky.
Sebagian peserta yang hadir, juga mengaku adanya problem tim yang selama ini terjadi. Diantaranya Retno, salah satu agen Wismilak dari Kotabaru, Kalimantan Selatan.
“Selama ini problem yang sering terjadi adalah kurangnya waktu untuk saling sharing dan evaluasi. Intinya koordinasi tim kami kurang,” tutur Retno. “Edukasi bisnis yang diberikan pak Humphrey bagus dan sangat memberi masukan buat saya, khususnya terkait dengan manajerial dan tim bisnis,” tutupnya. 

Rabu, 04 September 2013

REVITALISASI POS INDONESIA : GELIAT RAKSASA YANG LAMA TIDUR

Suwito Sumargo (kanan) dan Ramadhani (kiri)


‘Goodbye China, Hello Indonesia’. Ungkapan Nouriel Roubini ini seakan mewakili isi buku “Marketing for Turnaround”, yang dibedah dalam acara Book Club (23/08/13). Buku yang ditulis oleh Hermawan Kartajaya ini berisi langkah-langkah transformasi Pos Indonesia, dari Postal Company menjadi Network Company.
Acara yang diadakan oleh SEA Corp. (ActionCOACH East Java-Bali) ini menghadirkan pembicara Ramadhani, Program Development Consultant MarkPlus Institute dan Business Coach serta pendiri PT. GBT Laras Imbang, Suwito Sumargo, sebagai moderator acara.
Dipaparkan, Pos Indonesia pada awalnya belum melakukan marketing dengan baik. Jadi, meskipun tidak memiliki hutang, perusahaan jejaring raksasa berusia 266 tahun sejak zaman Belanda ini, pada tahun 2008 menderita kerugian miliaran rupiah. Itu kenapa, Pos Indonesia kemudian dianalogikan sebagai raksasa yang sedang tidur.
Proses pembenahan dimulai, ketika tahun 2009, I Ketut Mardjana sebagai President Director PT. Pos Indonesia merumuskan “Revitalization and Turnaround Strategy”, yang bertujuan menjadikan Pos Indonesia dari post company menjadi network company. Menariknya, konsep ini banyak yang selaras dengan konsep yang pernah diberikan oleh Hermawan kepada Pos Indonesia sebelumnya.
“Konsep turnaround sebenarnya adalah berani berubah atau merubah sesuatu melalui tahapan-tahapan yang ada,” jelas Ramadhani terkait  turnaround strategy.
Proses marketing turnaround Pos Indonesia berjalan dalam beberapa periode. Dimulai dengan proses modernisasi dan pemberdayaan, sebelum akhirnya melakukan pemasaran agar produk dan layanannya lebih banyak dikenal oleh masyarakat Indonesia. Beberapa langkah seperti menambah jaringan, bekerjasama dengan instansi lain, juga dibarengi dengan antisipasi terhadap fase krisis, untuk memantapkan diri menjadi network company berkelas internasional.
Strategi ini yang kemudian membuktikan, Pos Indonesia sebagai raksasa tidur yang sudah mulai terbangun. Ketika sebagian perusahaan pos di sebagian negara di dunia mulai bangkrut akibat krisis utang dan dampak digitalisasi, sebaliknya Pos Indonesia selalu meraup untung.
Bila strategi turnaround ini bisa mewujudkan Pos Indonesia lebih dari sekedar apa yang disebut Hermawan dengan More Than the Giant Network Company, bukan tidak mungkin Pos Indonesia menjadi agent of change bagi perubahan ekonomi yang lebih baik di negeri ini.