Kamis, 12 Desember 2013

HR FORUM - SEPULUH RAMBU-RAMBU REKRUITMENT

Karyawan merupakan aset penting dan sumber daya utama bagi perusahaan. Dia bisa membawa keuntungan, bahkan mendongkrak bisnis mencapai puncak. Itu mengapa proses recruitment menjadi satu hal important, yang harus dipahami oleh seorang owner bisnis.
Agar owner bisnis punya bekal dalam merekrut dan mendapatkan karyawan yang sesuai , SEA Corp. (ActionCOACH East Java & Bali) mengadakan acara Human Resource Forum bertajuk “10 Hiring Mistakes”, Jum’at (22/11/13). Sebuah forum yang mengupas kesalahan apa saja yang biasa terjadi ketika merekrut karyawan baru. Suwito Sumargo, sebagai pembicara berkata, penting bagi owner bisnis mengikuti acara ini.
“Saya ingin owner bisnis paham, bahwa kesalahan kecil saat menghire karyawan itu sering dilakukan. Padahal itu sebenarnya tidak perlu terjadi. Karena karyawan sangat penting keberadaanya buat perusahaan, maka jangan sampai kita mendapat orang yang tidak sesuai dengan posisi dan pekerjaannya,” tegas coach Suwito.
Kesalahan pertama yang biasa dilakukan owner bisnis dalam proses recruitment karyawan adalah menghire ‘diri sendiri’ (hiring yourself). Para owner seringkali merekrut karyawan yang terlihat punya karakter sama dengan pemilik perusahaan.
“Kemiripan karakter seringkali menjadi kelemahan bagi owner. Padahal, meskipun dengan background dan karakter yang sama, belum tentu hasil kerja dan pemikirannya juga sama,” tutur coach Suwito.
Lebih jauh, coach Suwito menegaskan, pemilik bisnis harus bersikap fair pada karyawannya. Jadi ketika ia menginginkan satu hal positif dilakukan karyawannya, maka dia harus mengawali dalam melakukannya.
Kedua, fast food hiring, yaitu merekrut hanya pada saat membutuhkan. Di waktu ini, seringkali para owner tergesa dan asal-asalan menerima karyawan. Karena berada pada kondisi ‘kepepet’, mereka jadi terjebak dalam kondisi serba instant (fast food).
Pada poin ini, coach Suwito membagikan tips bagaimana para owner bisa langsung mendapatkan seorang karyawan yang diinginkan pada saat urgent atau benar-benar membutuhkan.
“Proses recruitment baiknya sering dilakukan pada saat kita tidak sedang membutuhkan mereka. Daftar kandidat yang memenuhi kualifikasi, baru dipanggil lagi ketika perusahaan sangat membutuhkan posisi yang tepat untuk kandidat itu. Intinya, di waktu yang ‘kepepet’ kita tidak perlu lagi melakukan proses recruitment,” jelas pria yang juga owner GBT Laras Imbang ini.
Kesalahan berikutnya, hiring the resume, not the person. Hati-hati terhadap ‘jebakan’ resume adalah inti pada poin ini. Jadi ketika merekrut, jangan hanya mengandalkan Curriculum Vitae (CV). Ketika interview juga usahakan jangan terpaku dengan melihat resume. Kandidat yang berpotensi adalah mereka yang bukan hanya cerdas, tapi inovatif dan kreatif.
Keempat, interviewing on autopilot. Poin ini berhubungan dengan seberapa sering anda merekrut karyawan. Sebaiknya jangan terlalu sering, karena nantinya proses rekruitment akan berjalan otomatis dan asal-asalan. Hal ini bisa menghilangkan kepekaan anda untuk memilih kandidat yang sesuai dengan perusahaan.
“Hindari autopilot, karena kita butuh human sense,” tambah coach Suwito.
Kelima, lazy references checking. Sebelum memutuskan untuk menerima kandidat, ada baiknya anda menghubungi rekan yang pernah bekerja sebelumnya dengan kandidat. Dengan begitu anda bisa tahu bagaimana mereka bekerja serta sifat dan tingkah laku, yang bisa dijadikan acuan ketika kelak mereka bergabung dengan perusahaan kita.
Poin berikutnya, freezing out your team. Usahakan melibatkan tim saat proses hiring. Akan lebih baik, jika nantinya tim itu yang akan terlibat langsung dengan kandidat.
Kesalahan yang juga biasa terjadi adalah only hiring outside – or inside. Di beberapa perusahaan, para owner hanya merekrut orang-orang dari internal perusahaan untuk menjabat posisi baru. Hal ini karena owner sudah mengetahui bagaimana attitude serta karakter mereka. Selain itu, culture yang dimiliki sang karyawan sudah sama dengan culture perusahaan. Padahal, diperlukan juga merekrut orang luar untuk membentuk budaya baru, sehingga perusahaan akan lebih beradaptasi dan welcome terhadap perubahan.
“Namun jika hanya merekrut pihak luar saja juga tidak baik, karena culture perusahaan dan proses bisnis yang sudah terbentuk bisa berubah, bahkan berantakan. Itu mengapa, harus ada kombinasi antara keduanya. Diperlukan orang luar, agar yang di dalam ini tidak kaku dan statis. Sebaliknya, diperlukan pihak dalam, untuk mempertahankan budaya perusahaan yang sudah terbentuk.”
Selanjutnya, when it’s all about the money. Pada saat merekrut, jangan semata-mata karena uang. Buat perhitungan dulu sebelumnya. Apa yang dia dapat, harus seimbang atau sesuai dengan apa yang berikan kepada kita.
Terakhir, letting it fester. Jauhkan pekerja yang buruk dan berpengaruh negatif pada perusahaan anda.
“Pengaruh negatif di sini bukan hanya yang punya attitude yang buruk saja, namun juga pekerja yang terlalu potensial, sehingga gap dengan perusahaan jauh,” tegas coach Suwito lagi.

0 komentar:

Poskan Komentar