Sabtu, 09 November 2013

CEO PowerLunch - WILLINGNESS TO HAPPINESS

Para CEO tampak serius mengikuti edukasi bisnis dengan tema "Happiness and Productivity at Work".

Dalam proses bisnisnya, seorang leader ternyata perlu unsur happiness, yang nantinya berujung pada hasil produktivitas yang tinggi.
Hal itu yang didiskusikan dalam Forum CEO PowerLunch, Rabu (23/10) kemarin. Forum berjudul “Happiness and Productivity at Work” ini diadakan oleh PT. Surabaya Excellence Action (ActionCOACH East Java-Bali) di Pelangi Room, Hotel Shangrila Surabaya.
Suwito Sumargo, selaku pembicara dalam acara ini menegaskan, bahwa happiness lebih menunjuk pada prosesnya, dan tidak tergantung dengan apa yang akan diperoleh.
“Sebenarnya happiness ini sudah ada dalam setiap diri kita, tinggal bagaimana cara kita mengeluarkannya. Inti happiness tergantung pada tindakan atau action kita, dimana hal itu akan lebih terasa jika kita punya ambisi lebih,”  tutur pria yang biasa dipanggil coach Suwito ini terkait prinsip happiness.
“Ada perbedaan antara personal ambition dan great ambition. Ambisi yang besar berhubungan dengan personal lain, bukan hanya pribadi saja. Misalnya, kita punya ambisi pribadi ingin menjadi seorang CEO. I want to be CEO. Maka jika diterjemahkan dalam sebuah great ambition menjadi, saya ingin menjadi CEO sehingga orang-orang bisa bekerja dan saya bisa mengurangi pengangguran. Dalam menjalankan kepemimpinannya pun dia akan lebih memperhatikan kepentingan orang banyak, sehingga lebih dihargai dan dipercaya karyawannya,” papar coach Suwito lagi.
Lebih lanjut, coach Suwito menjelaskan, setidaknya ada 6 poin yang bisa dilihat dari seorang trustworthy leader. Pertama adalah komunikasi yang transparan, jujur, dan terbuka terhadap bawahannya. Proses menciptakan komunikasi transparan ini memang panjang, karena terkait dengan gaya komunikasi dari setiap orang yang berbeda, dan bagaimana komitmen mereka untuk menjadikannya sebuah budaya.
Kedua, leader yang menghargai feedback dari para karyawannya. Di sini, leader akan menerima saran, pendapat, sampai kritik apapun dari mereka, tanpa ada judgement.
Selanjutnya, pemimpin yang mencerminkan pribadi empowers people. Dalam artian, bisa membuat orang lain maju,yang notabene bukan hanya untuk kepentingan perusahaan saja. Keempat, fokus pada penciptaan leader yang baru. Jadi bagaimana seorang leader menciptakan leader lain yang lebih baik (leader create leader).
Poin berikutnya, U+ME=US, yang artinya membaur atau akrab dengan para staff atau karyawan. Terakhir, consistent behaviour. Konsisten terhadap visi yang dia perjuangkan. Karena visi ini merupakan pengejawantahan dari ambisi yang lebih besar (greater ambition).
“Seperti apa yang Dalai Lama bilang, happiness is not something ready made. It comes from your own actions. Kebahagiaan menjadi seorang CEO bukan dilihat pada hasil gemilang, tapi lebih penting bagaimana dalam actionnya, dia menjadi seorang pemimpin yang bisa dihargai, dipercaya, dan dengan penuh kesadaran membuat orang lain lebih baik. Prinsipnya willingness to happiness,” ungkap coach Suwito.

Being Greater Productivity
Jika happiness lebih mengarah pada proses, maka pada teknikalnya ada beberapa aspek yang diperlukan untuk mencapai produktivitas yang maksimal. Beberapa diantaranya seperti personalize agenda, delineate and group task, dan monitor agenda.
“Pada monitor agenda, lebih pada orang yang process oriented. Jadi selalu melihat prosesnya, bukan hasilnya,” kata pria yang sudah 30 tahun lebih berkecimpung di dunia bisnis ini.
Selain itu ada aspek hand over assignments, email and social media trap, clean desk, juga limited meeting dan discipline in giving out helps, baik pekerjaan yang bersifat teknikal, maupun bersifat pemikiran.
“Riset membuktikan bahwa meeting yang dilakukan lebih dari 2 jam, ujungnya akan tidak efektif dan menjadi tidak fokus pada topik meeting. Karena itu usahakan tetap fokus pada topik meeting dan hindari terlalu banyak melakukan meeting, apalagi sampai 2 jam ke atas.”
Di akhir acara, Coach Suwito berharap, dengan mengikuti forum ini, para peserta bisa menjadi true leader, yang bisa menjalankan bisnis dengan hati, dan bisa mengkolaburasikan antara mindshare dan heartshare (hati nurani).

Pendapat Para CEO :
1.       Achmad Suratin Kurniawan (Nafisa Production)
Selain penjelasan yang bersifat komunikatif, tema yang diberikan dalam forum CEO PowerLunch kali ini sangat inspiratif.
Selama ini, untuk menjadi pemimpin yang trustworthy, kami selalu berusaha konsisten dengan apa yang kami sampaikan kepada para karyawan. Mulai dari hal kebijakan, sampai konsisten dalam menjalankan visi dan apa yang menjadi tujuan kami ke depan.
Kami juga sering melakukan pendekatan secara personal kepada mereka. Di samping membuat suasana kerja jadi lebih nyaman, diharapkan bisa terjalin semacam ikatan batin atau ‘chemistry’ antara mereka dan perusahaan, sehingga produktivitas kerja pun bisa meningkat.
2.       Widarta Chandra (Sarana Sukses)
Menurut saya, dibutuhkan wise yang begitu besar untuk menjadi pemimpin yang trustworthy. Selain kemauan menjadi great leader, butuh waktu dan banyak pengalaman, untuk menempa diri jadi bijaksana.
Forum ini bermanfaat buat saya, karena Coach Suwito selaku pembicara sudah lama terjun di dunia bisnis, sehingga materi yang disampaikan juga lebih bersifat praktis dan teknis. 

0 komentar:

Posting Komentar