Rabu, 04 September 2013

REVITALISASI POS INDONESIA : GELIAT RAKSASA YANG LAMA TIDUR

Suwito Sumargo (kanan) dan Ramadhani (kiri)


‘Goodbye China, Hello Indonesia’. Ungkapan Nouriel Roubini ini seakan mewakili isi buku “Marketing for Turnaround”, yang dibedah dalam acara Book Club (23/08/13). Buku yang ditulis oleh Hermawan Kartajaya ini berisi langkah-langkah transformasi Pos Indonesia, dari Postal Company menjadi Network Company.
Acara yang diadakan oleh SEA Corp. (ActionCOACH East Java-Bali) ini menghadirkan pembicara Ramadhani, Program Development Consultant MarkPlus Institute dan Business Coach serta pendiri PT. GBT Laras Imbang, Suwito Sumargo, sebagai moderator acara.
Dipaparkan, Pos Indonesia pada awalnya belum melakukan marketing dengan baik. Jadi, meskipun tidak memiliki hutang, perusahaan jejaring raksasa berusia 266 tahun sejak zaman Belanda ini, pada tahun 2008 menderita kerugian miliaran rupiah. Itu kenapa, Pos Indonesia kemudian dianalogikan sebagai raksasa yang sedang tidur.
Proses pembenahan dimulai, ketika tahun 2009, I Ketut Mardjana sebagai President Director PT. Pos Indonesia merumuskan “Revitalization and Turnaround Strategy”, yang bertujuan menjadikan Pos Indonesia dari post company menjadi network company. Menariknya, konsep ini banyak yang selaras dengan konsep yang pernah diberikan oleh Hermawan kepada Pos Indonesia sebelumnya.
“Konsep turnaround sebenarnya adalah berani berubah atau merubah sesuatu melalui tahapan-tahapan yang ada,” jelas Ramadhani terkait  turnaround strategy.
Proses marketing turnaround Pos Indonesia berjalan dalam beberapa periode. Dimulai dengan proses modernisasi dan pemberdayaan, sebelum akhirnya melakukan pemasaran agar produk dan layanannya lebih banyak dikenal oleh masyarakat Indonesia. Beberapa langkah seperti menambah jaringan, bekerjasama dengan instansi lain, juga dibarengi dengan antisipasi terhadap fase krisis, untuk memantapkan diri menjadi network company berkelas internasional.
Strategi ini yang kemudian membuktikan, Pos Indonesia sebagai raksasa tidur yang sudah mulai terbangun. Ketika sebagian perusahaan pos di sebagian negara di dunia mulai bangkrut akibat krisis utang dan dampak digitalisasi, sebaliknya Pos Indonesia selalu meraup untung.
Bila strategi turnaround ini bisa mewujudkan Pos Indonesia lebih dari sekedar apa yang disebut Hermawan dengan More Than the Giant Network Company, bukan tidak mungkin Pos Indonesia menjadi agent of change bagi perubahan ekonomi yang lebih baik di negeri ini.

0 komentar:

Posting Komentar