Kamis, 19 September 2013

LEAN THINKING : INTINYA, MAKE IT SIMPLE SAJA

Suwito Sumargo menjelaskan langkah-langkah dalam konsep Lean.

Sebagai bentuk acara rutin, untuk memberikan materi tentang pondasi yang mutlak dimiliki dalam dunia bisnis, SEA Corp. (ActionCOACH East Java-Bali) kembali mengadakan forum Business Mastery bertajuk “Lean Thinking”, Jum’at (16/08/13).
Suwito Sumargo, selaku pembicara menjelaskan konsep lean thinking perlu dipelajari, agar pemilik bisnis bisa menghemat modal usaha, baik dalam bentuk uang, sumber daya manusia (SDM) maupun waktu.
“Pada prinsipnya, lean thinking itu lebih pada proses. Bisa disebut juga dengan proses perampingan. Entah itu berupa step-step yang dibuat simple dan singkat (pendek). Dan menekan ‘waste’ yang terbuang,” tutur business coach yang juga pemilik GBT Laras Imbang ini.
Suwito menjelaskan, menekan ‘waste’ dalam lean enterprise tidak harus terkait dengan material produk yang lebih murah, Pemutusan Hubungan Kerja (PHK), ataupun memangkas margin supplier. Ada beberapa prinsip yang ada dalam lean enterprise, salah satunya menentukan atau membuat spesifikasi nilai-nilai di mata customer. Nilai-nilai itu tidak harus selalu berupa produk saja, namun bisa berupa kerapian, delivery, ketepatan, sampai ketersediaan.
Misalnya pada produk teh botol. Sejalan dengan prinsip lean, wadah botol kaca diganti dengan botol plastik atau bahkan kemasan karton. Customer pun tidak mempermasalahkan hal itu, karena mereka lebih memperhatikan isinya (dalam artian kualitas atau rasa tehnya). Dan perubahan ini dinilai lebih praktis dan menguntungkan, karena kemasannya bisa langsung dibuang ketika sudah dipakai.
Contoh kedua, dalam hal pengadaan seminar. Yang terpenting bagi peserta seminar adalah bagaimana pembicara bisa komunikatif dalam menyampaikan materi, sehingga mudah dimengerti oleh mereka. Jadi, tidak perlu terlalu ribet pada pengadaan modul yang menarik, tapi justru fokus pada pemilihan pembicara seminar yang komunikatif dan ‘mumpuni’ dalam menyampaikan materi.
Lebih lanjut, Suwito juga memaparkan tentang kendala dalam melakukan prinsip lean. Diantaranya adalah ketidakmampuan owner untuk memahami prinsip dan mendelivery hambatan-hambatan dalam prinsip lean.
“Kegagalan lean thinking justru karena pelaku bisnis terlalu fokus pada alat dan metodologi, bukan fokus pada filosofi dan budaya dari lean itu sendiri. Mereka terlalu ribet dengan pertanyaan-pertanyaan bagaimana, dengan apa, caranya seperti apa,” tutur Suwito. “Budaya lean itu bisa dibentuk dengan membiasakan karyawan dan customer kita berpikir lebih sederhana. Menjalankan bisnis dengan proses yang sederhana, trial and error, namun tetap pada prinsip lean. Seiring dengan itu, lama-kelamaan para owner akan menemukan sendiri metode lean yang sesuai dengan alur bisnisnya. Intinya itu, make it simple saja,”tambahnya.

0 komentar:

Poskan Komentar