Kamis, 22 Agustus 2013

Mencetak Entrepreneur Berkelas dengan Pendekatan Coaching : Sebuah Deposisi Terminologi Mentoring, Consulting dan Coaching





By: Humphrey Rusli*


(10 Agustus 2013, 00:10am) - "Tantangan terbesar dari para Entrepreneur adalah terbatasnya ketersediaan rekan bertukar pikiran (brainstorm partner) untuk meningkatkan kapasitas pribadi dan kualitas reaksi akan setiap permasalahan ataupun kesempatan yang muncul dihadapannya."

Sudah menjadi keharusan bagi seorang entrepreneur untuk memiliki mimpi yang besar ketika memulai usaha, atau bagi ahli waris untuk memiliki mimpi lebih tinggi dari penerusnya. Sayangnya, survey menyatakan sebaliknya, 80% bisnis di dunia ini tidak mampu mencapai usia kelima. Dan hanya 4% yang dapat mencapai usia kesepuluh. Itu berarti, 96% bisnis gugur sebelum mencapai umur satu dekade.
Banyak faktor yang mendasari fenomena ini, namun apabila ditarik benang merahnya, permasalahan utama terbanyak terletak pada ketidak mampuan entrepreneur untuk mengambil tindakan dan memberikan reaksi yang tepat untuk setiap issue yang dihadapinya. Kesalahan membuat keputusan akan menimbulkan reaksi berantai yang tidak saja berpotensi menimbulkan masalah-masalah baru. Lebih parah lagi, membuat banyak kesempatan emas di depan mata hilang karena tiadanya waktu dan energi untuk menggarapnya.

Problem Solving Vs Empowerment
Secara global, proses penyelesaian masalah bisnis bisa diselesaikan dengan 2 cara pendekatan.
Pendekatan pertama yang sering dilakukan adalah
apa
yang disebut "Problem Solving" atau pemecahan langsung akan masalah yang timbul atau dirasakan mengganggu entrepreneur. Secara sederhana, hal ini dimulai dengan timbulnya gejala yang kurang diinginkan, seperti menurunnya profit, kehilangan pelanggan, ketidakpastian delivery atau kacaunya proses produksi suatu usaha. Atas gejala-gejala tersebut entrepreneur akan berusaha memecahkan sendiri (lazimnya demikian) sebelum mencari bantuan pihak luar, mulai dari non formal assistance seperti berdiskusi dengan teman, mencari pendapat dari pemilik usaha sejenis, bergabung dengan organisasi, sampai ke pilihan menggunakan jasa profesional.
Jasa profesional ini bermacam-macam, ada yang berbasis "mentoring" yaitu dimana seorang mentor biasanya memiliki pengalaman nyata serupa dan telah lebih dahulu berhasil menemukan solusi akan permasalahan tersebut. Seorang mentor wajib memiliki technical background dan pengetahuan yang sama dengan "mentee" atau pihak yang menggunakan jasanya. Lebih bagus lagi apabila sang mentor masih aktif di bidang bisnis yang sama.
Ada pula jasa profesional yang berbasis "consulting", dimana pendekatan yang dipakai adalah cara pikir logis-deduksi serta pemaparan  skema solusi yang sudah terbukti secara empiris berhasil membantu pengusaha dibidang lainnya dalam memecahkan masalah serupa. Fleksibilitas dengan pendekatan "consulting" lebih tinggi dibandingkan mentoring sehingga bisa digunakan lintas bisnis. Namun karena landasan berpikirnya dari data empiris, sehingga banyak konsultan menambahkan jasanya agar dapat dipakai dan dieksekusi ke dalam bisnis secara spesifik (tailor made). Hal ini sudah menjadi praktek umum di dunia konsultasi.
Lalu dimana peran dan sumbangsih coaching dalam membantu entrepreneur dalam memecahkan masalah-masalah bisnis serta mengambil sikap (memilih pola pikir sesuai dengan masalah yang dihadapi) pada setiap keputusannya?
Pendekatan kedua dalam pemecahan suatu masalah bisnis adalah melalui proses empowerment. "Empowering" adalah kata kunci di dunia business coaching. Kata ini mempunyai makna: memberdayakan entrepreneur. Apa yang diberdayakan dan bagaimana prosesnya?
Coaching mempunyai cara yang berbeda dengan consulting. Consulting bersifat eksternal artinya memberikan suntikan ilmu baru, jawaban baru, teknologi baru, terobosan baru, trik menjual baru, yang sering bersifat universal. Sedangkan coaching lebih bersifat internal, yaitu lebih pada memfasilitasi entrepreneur dalam menciptakan cara sendiri, menemukan terobosan sendiri, menentukan jalan sendiri serta mengkombinasikan kemungkinan-kemungkinan solusi sendiri dan sangat kondisional.
Jika sifat pemahaman mengenai consulting bergerak dari generic ke specific (imploratif), maka coaching bergerak sebaliknya dari specific ke pemahaman generic (eksploratif). Jika consulting lebih ke problem-focused dan pengambilan tindakan korektif, maka coaching lebih kepada membangun "kekuatan dan ketajaman" pola pikir dan pengambilan sikap entrepreneur. Dengan demikian, dalam mengatasi masalah pada akhirnya entrepreneur dapat mengkoreksi sendiri atau mengambil tindakan lain yang dianggap lebih baik.
Jika consulting melibatkan ahli teknis dibidang tertentu untuk ikut memberikan advis dan mempengaruhi keputusan entrepreneurcoaching hanya akan melibatkan ahli teknis ketika entrepreneur sudah mengambil tindakan dan keputusannya, sehingga ahli teknis bersifat supportive semata.
Jika consulting cenderung fokus ke short-term and quick gain (fix), sebaliknya coaching lebih fokus ke long-term and sustainable gain. Jika consulting tidak terlalu menitikberatkan ke pola pikir dan kebiasaan atau sifat berbisnis entrepreneur, maka coaching sangat menitikberatkan dan menomorsatukan hal ini.
Hasil atau value coaching yang tertinggi terletak pada independensi atau kemerdekaan entrepreneur dalam menentukan sikap serta pemahaman yang mendalam akan proses pemecahaan suatu masalah, hal ini karena proses pembentukan solusi berangkat dari akar masalah secara mendalam. Secara sederhana dapat dikatakan bahwa: ketika proses coaching berhasil, entrepreneur akan mampu menyelesaikan masalah dan mengambil sikap yang tepat untuk masalah yang kurang lebih sama, bahkan untuk masalah-masalah baru yang belum pernah ditemui sebelumnya, entrepreneur akan mampu menemukan "jalan keluar" sendiri tanpa terlalu tergantung dengan Coach lagi!
Inilah proses empowerment atau pemberdayaan yang ditawarkan dalam proses coaching. Menjadi juara sejati dalam dunia entrepreneur berarti mampu mengolah diri sendiri dan pola pikir secara handal dan konsisten sehingga dapat mendayaoptimalkan segenap potensi dan kesempatan bisnis sekecil apapun. Sudah siapkah anda menjadi juara di bisnis anda?

*Tulisan ini dibuat pada ketinggian 10.000 meter diatas permukaan laut, dalam sebuah perjalanan mengikuti Konferensi Coaching tingkat dunia di Berlin.

0 komentar:

Posting Komentar