Kamis, 27 Juni 2013

Seminar “From Super-Boss To Super-Team” : PESERTA MEMBLUDAK, SEMINAR DIADAKAN HINGGA TIGA KALI


Peserta antusias dan sebagian besar merasa puas dengan materi yang diberikan
96% perusahaan tidak bisa berjalan tanpa kehadiran pemiliknya. Menghadapi fenomena itu, ActionCOACH menghadirkan sebuah seminar bertajuk “From Super-Boss To Super-Team”. Selain punya tim solid, tema ini diangkat, agar pemilik bisnis berujung pada bisnis yang sukses dan berjalan tanpa tergantung kehadiran mereka.
Bertempat di Master Office ActionCOACH Surabaya (Ballroom Las Vegas), seminar ini diadakan sampai tiga kali dalam sebulan (4 Mei, 18 Mei, dan 30 Mei 2013). Hal ini untuk menjaga hasil seminar tetap optimal, mengingat antusias dan banyaknya peserta yang akan hadir.
Di awal acara, Humphrey Rusli selaku pembicara memaparkan, ekonomi makro Indonesia akan berubah drastis. Owner bisnis tidak lagi berhadapan dengan kompetitor lokal saja, tapi juga kompetitor asing. Dan selama ini, kondisi yang masih terjadi adalah para ‘owner’ tidak fokus pada ‘team building’, namun lebih menghadapi para customers (konsumen). Padahal, kewajiban menghadapi konsumen ada pada pundak tim bisnis.
“Kalau para pemilik bisnis hanya terpusat menghadapi konsumen, begitu juga timnya. Maka, yang ada bisnis menjadi terbengkalai,” ujar business coach yang pernah menyabet ‘Associate Coach of the Year 2012 dan 2013’ tingkat internasional ini.
Lebih lanjut, berbicara mengenai tim, ada beberapa kunci untuk membentuk sebuah ‘super-team’. Yang pertama, adalah strong leadership. Para pemilik bisnis harus bisa membedakan antara tugasnya dan tugas seorang manager dalam membentuk tim bisnis. Seorang manager lebih bertanggung jawab pada pembentukan ‘body and mind’ tim. Sedangkan leader (pemilik perusahaan) lebih bertanggung jawab pada pembentukan ‘heart and spirit tim (kompensasi emosional). Jadi bukan pada masalah teknis pekerjaan.
Kunci selanjutnya yaitu common goal (spesifikasi visi perusahaan), rules of the game, action plan, support risk taking, dan 100% involvement inclusion.
“Para pemilik bisnis harus rela mengambil resiko ketika timnya membuat satu kesalahan. Karena dengan ini, mereka tahu bahwa timnya punya ‘heart and spirit’. Selain itu, para pemilik bisnis harus fokus dan terlibat langsung pada pembentukan super-team. Bagaimana caranya? diantaranya dengan pemberian edukasi dan gather up tim tentang visi dan misi perusahaan,” papar Humphrey.

Perubahan ‘mindset’
Dari awal diadakan, seminar ini mampu menyedot banyak peserta. Bahkan, karena keterbatasan tempat, panitia terpaksa menolak beberapa pemilik bisnis yang akan mendaftar. Hal ini tidak mengherankan, mengingat tema seminar yang selain menarik, juga berhubungan dengan fenomena bisnis saat ini.  
Di akhir acara, sebagian besar peserta yang hadir mengaku sangat puas dengan materi yang diberikan. Bagi mereka, ada perubahan mindset yang dimiliki setelah mengikuti seminar, khususnya terkait dengan sistem bisnis yang  tepat dan bagaimana membentuk sebuah tim solid, dan punya ‘heart and spirit’ terhadap kemajuan perusahaan.
Diantaranya Lili Imelda, yang mengaku punya tambahan ilmu sebagai bekal bisnisnya ke depan. Jika seminar lain hanya bersifat motivator saja, tapi kali ini banyak teknik atau contoh yang diberikan, sehingga peserta mudah mengerti.
“Saya jadi lebih paham bagaimana membuat tim yang bisa dihandalkan, meskipun tanpa kehadiran saya,” kata wanita pemilik ‘Garmen Kristal Sport Wear’ ini.
Peserta seminar lain, Mondi Setyono, pemilik sebuah bisnis kemasan kaleng juga mengaku senang mengikuti seminar ini.
“Menurut saya, seminar ini menarik. Selain mendapatkan ilmunya, semua pertanyaan saya terkait pembentukan super-team juga terjawab,” ujar pria ini. 

0 komentar:

Posting Komentar